FROM HEART FOR EARTH!
Ya! itulah yang Bumi butuhkan dari kita. Bumi sudah mulai rapuh bak kayu yang lapuk. Bumi rapuh karena siapa?! Tentu saja karena ulah manusia itu sendiri. karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. MENGAPA ADA GLOBAL WARMING DI DUNIA INI?! KENAPA?! Ya. Sudah pasti karena ulah manusia lagi. Memang.. memang manusia makhluk yang tidak luput dari dosa yang tidak bertanggung jawab akan keberadaan bumi.
Penyebab utamanya adalah asap kendaraan bermotor. Itulah penyebab utama yang menyebabkan bumi seperti ini. Oleh karena itu manusia seharusnya tidak menggunakan kendaraan bermotor dengan seenaknya. Karena asap kendaraan motor tersebut sangat amat berpengaruh akan kerusakan bumi. Salah satu cara mengatasinya adalah:
1. Mengurangi pemakaian kendaraan bermotor yang berlebihan.
2. Melakukan Go Green atau penghijauan.
3. Menerapkan Eco Mudik pada saat mudik.
Mengapa harus menerapkan Eco Mudik pada saat mudik?
Mudik? Suatu hal yang tidak asing lagi didengar kalangan semua orang. Mudik selalu dilakukan setiap setahun satu kali oleh kalangan orang. Dan mudik tidak asing lagi dengan kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor pun tidak jauh dengan kata polusi udara. Polusi udara inilah yang sangat amat berpengaruh akan kerusakan BUMI. Maka dari itu kita harus mengurangi polusi udara demi keselamatan bumi. Ada satu cara untuk mengurangi polusi udara yaitu:
"Eco-Driving"
Eco-Driving adalah sebuah cara mengemudi yang dapat menghemat konsumsi BBM, Pengurangan emisi gas buang, Pengurangan polusi suara, dan Pengurangan resiko kecelakaan di jalan raya. Dengan Eco-Driving pengemudi yang dapat memaksimalkan fitur teknologi yang tersedia pada: Kendaraan halus, Nyaman, dan Dapat menghemat konsumsi BBM s/d 5-10%.
Eco-Driving sangat mudah dipelajari akan tetapi sangat sulit untuk menerapkannya, Mengapa? Ini masalah perilaku, ketika anda memilikinya maka elemen-elemen dibawah ini akan tercapai dengan mudah:
1. Penghematan konsumsi BBM.
2. Pengurangan emisi gas buang.
3. Pengurangan polusi suara.
4. Menambah umur pakai part.
5. Pengurangan potensi resiko kecelakaan dengan perilaku teknik mengemudi resiko rendah.
Adapun 5 kunci utama menerapkan Eco-Driving pada perjalanan mudik:
1. Memindahkan gigi transmisi sesegera mungkin.
2. Menggunakan kecepatan konstan.
3. Gigi tinggi dan RPM rendah.
4. Antisipasi arus lalu lintas.
5. Lakukan perlambatan dengan halus.
Dibawah ini adalah penjelasan 5 kunci utama menerapkan Eco-Driving pada perjalanan mudik:
1. Memindahkan gigi transmisi sesegera mungkin.
Pindahkan gigi sesegera mungkin! Pindahkan gigi sebelum jarum RPM mencapai angka 2500 untuk kendaraan berbahan Bensin dan LPG, RPM 2000 pada kendaraan diesel. Umur komponen – komponen kendaraan pada bagian yang menghasilkan tenaga akan mengalami penurunan akibat friksi internal. Penurunan umur semakin bertambah seiring kenaikan kecepatan putaran mesin. Dengan menggunakan putaran mesin yang rendah penurunan umur ini akan menjadi terbatas dan impactnya adalah konsumsi bahan bakarpun akan berkurang. Beban kerja yang berat pada mesin untuk menghasilkan tenaga akan menjadi pemborosan ketika seorang pengemudi tidak dapat menyesuaikannya dengan penggunaan gigi transmisi yang tepat, tenaga yang besar tidak menjadi maksimal ketika tersalurkan kepada roda-roda penggerak (drive wheels), seharusnya putaran mesin yang dihasilkan tidak terlalu banyak terhambat oleh gigi transmisi bersambung mulus ke roda-roda.
2. Menggunakan kecepatan konstan.
Jaga agar selalu berada pada kecepatan konstan dengan cara menggunakan gigi transmisi tinggi. Ketika berakselerasi energi dari BBM/LPG akan menggerakan kendaraan, ini akan terbuang ketika kita melakukan pengereman. Penomena ini akan terasa setelah anda melakukan pengereman tajam, piringan rem akan menjadi panas akibat transformasi perubahan energi putar menjadi energi panas, makanya perlakukan akselerasi – akselerasi dan pengereman dampaknya kepada konsumsi BBM yang konsumtif/boros. Analogi nya ketika kendaraan rata-rata akan memerlukan 5PK pada kecepatan konstan di 50Km/jam, lebih kurang 25PK pada kecepatan 120Km/jam (tenaga yang diperlukan semakin meningkat seiring dengan kecepatan kendaraan). Sisa tenaga yang ada pada mesin akan terpakai untuk akselerasi yang dilakukan si pengemudi. Oleh karena itu menjaga agar kecepatan tetap konstan akan membuat pemakaian tenaga dan BB menjadi terbatas.
3. Gigi tinggi dan RPM rendah.
Adanya opini yang berpendapat pedal gas berhubungan dengan konsumsi BBM tidak keseluruhannya benar pada mesin-mesin bensin. Pedal akselerator hanya mengoperasikan katup throttle/kupu-kupu yang mempengaruhi kuantitas udara. Pada dasarnya hanya mengakibatkan momen putar pada mesin, jumlah pemakaian BBM dipengaruhi dari beban kerja mesin itu sendiri, semakin kecil reduksi dari moment tenaga yang dihasilkan oleh mesin semakin kecil pemakaian BBM.
4. Antisipasi arus lalu lintas.
Gunakanlah teknik mengemudi Crash Free Driving, Dengan teknik mengemudi Crash Free Driving (Teknik Mengemudi Resiko Rendah) milik JDDC seorang pengemudi akan mudah mengantisipasi arus lalul intas disekelilingnya. Untuk mendapatkan kecepatan konstan sangatlah penting untuk mengantisipasi situasi traffic di sekeliling dengan demikian pengemudi dapat mengurangi pengereman-pengereman dan akselerasi yang tidak perlu. Banyak situasi dapat diketahui dari jauh sebelumnya dan memberikan kesempatan kepada si pengemudi untuk merencanakan tindakan apa yang harus dilakukannya, dengan demikian akselerasi dan pengereman yang tidak perlu dapat dengan mudah dihindarkan.
5. Lakukan perlambatan dengan halus.
Saat melakukan perlambatan, lakukanlah dengan halus dan bertahap dengan gigi transmisi tetap masuk (tidak dengan netral). Mobil-mobil yang dibuat diatas tahun 2000 umumnya dilengkapi dengan sistim injeksi elektronik yang memiliki fuel cut off , kemampuan memutuskan supply BBM keruang mesin saat melakukan perlambatan mesin (Engine Brake). Keuntungannya, seorang pengemudi dapat mengangkat pedal gas setiap saat perlambatan tanpa terlalu banyak dibantu dengan pengreman pada roda-roda. Pada kendaraan yang menggunakan karburator tanpa eletronik fuel cut off, akan sama konsumsinya saat engine braking dan saat mesin idling atau ketika deselerasi menggunakan gigi dan tidak menggunakan gigi (netral), akan tetapi mengangkat pedal gal secara halus dan menghindari pengereman tajam juga membuat kendaraan menjadi lebih ekonomis.
Dibawah ini adalah hal yang harus diperhatikan ketika melakukan Eco-Driving:
1. Perhatikan kecepatan pada saat mengemudi di lintasan berbukit.
Mengemudi area perbukitan sangatlah penting melakukan manajemen kecepatan. Usahakan pergerakan kendaraan dengan menggunakan tenaga yang kecil. Ini dapat dimungkinkan jika putaran RPM dicapai dengan rendah, pertahankan agar kendaraan bergulir sedemikian rupa tanpa menggunakan RPM tinggi dan gigi rendah. RPM tinggi pada permukaan licin (off road) sering membuat traksi pada roda penggerak terlepas yang akhirnya kendaraan tidak mencapai permukaan yang lebih tinggi. Sering prinsip menggunakan RPM tinggi dan rendah menjadi suatu perdebatan, yang paling tepat coba lakukan. Pabrikan kendaraan membuat kendaraan dapat bergerak konstan dengan muatan penuh pada RPM 1,000.
2. Matikan mesin saat berhenti sesaat.
Matikan mesin jika memungkinkan, semisal saat berhenti menunggu palang pintu di lintasan KA, di traffic light atau menunggu seseorang. Ketika mencoba menghidupkan jangan tekan pedal gas.
3. Perhatikan pada saat menikung.
Menikung dengan Eco-Driving dapat dicapai melalui beberapa faktor: Kecepatan, Arah Lintasan, dan Latihan. Pandangan jauh kedepan lakukan perlambatan sehalus mungkin, jika aman tanpa menggunakan pedal rem gunakan TITO (melebar-mengecil-melebar) dengan demikian faktor reduksi rotasi roda kecil. Secara umum ini dapat dikatakan pengemudi harus dapat mengantisipasi kondisi area tikungan tersebut. dengan pasti dan aman. Cara mengemudi dengan kecepatan tinggi, mengerem tajam dan meningkung tajam selanjutnya berakselarasi dengan cepat (gaya racing) tidak saja akan meningkatkan pemakaian BBM tetapi juga memperpendek umur komponen kendaraan.
4. Faktor aerodinamik.
Proses manufaktur sebuah mobil salah satunya adalah test aerodinamik yang dilakukan melalui sebuah terowongan angin, semakin kecil hambatan angin yang diperoleh oleh sebuah mobil salah satunya akan mempengaruhi konsumsi BBM kendaraan tersebut. Pemakaian ban dengan permukaan lebar , penempatan rak diatas kendaraan atau membawa barang diluar kendaraan, dan membuka kaca pintu pada saat kecepatan tinggi akan mempengaruhi konsumsi BBM.
5. Periksalah tekanan angin ban.
Periksa tekanan angin setidaknya 2 minggu sekali. Pastikan ukuran angin ban sesuai sebagaimana rekomendasi pabrik ban tersebut. Pada prinsipnya hambatan friksi permukaan ban dan permukaan jalan tidak terlalu besar, tekanan angin yang kurang 25% dari ukuran normal akan meningkatkan traksi roda sekitar 10% dan peningkatan konsumsi BBM sebesar 2%. Tekanan angin yang berlebih akan membuat efek negatif; Traksi roda akan berkurang pada kecepatan tinggi, jarak pengereman semakin panjang, durability komponen kaki-kaki kendaraan akan menjadi lebih singkat. Pemeriksaan tekanan angin harus dilakukan dalam keadaan ban dingin atau dapat dilakukan paling jauh kurang dari 3 km jarak tempuh.
6. Pemeliharaan kendaraan.
Periksalah kendaraan anda secara berkala, filter oli, dan BBM harus diganti sesuai buku manual masing-masing kendaraan, air accu tidak dalam kondisi kurang. Mesin yang tepat waktu di tune up memberikan emisi gas buang. Accu yang lemah akan membuat anda harus berulang dalam melakukan starter. Kondisi ini selain mengkonsumsi BBM juga meningkatkan emisi gas buang.
AYO! Tunggu apalagi? Terapkanlah Eco-Driving pada saat mudik mulai sekarang!
Labels: Eco-Driving
posted @ 20:34All Rights Reserved.